Marsih dan Jabang Bayi
Malam
kian menampakan eksisitensi diri diiringi celoteh ratusan jangkrik, serta
teriak para kodok yang tengah kawin ditepi kolam dekat rumahku. Sebenarnya terlalu
mewah jika kukatakan sebagai rumah, sebab bangunan yang kutempati bahkan serupa
gubuk sawah dekat kandang bebek kang Mahmud, tetangga desaku yang telah menduda
sejak tahun 2003 karena gugat cerai atas dasar ketidakpuasan ekonomi yang
dilayangkan istrinya ke Kantor Pengadilan Agama di Batarbarang, Rembang. Gubuk
sederhanaku terbuat dari kayu, plastik, terpal serta beberapa lembar seng yang
banyak karat serta berlubang, jika hujan tiba maka ia memberikanku tetes tetes
terbaiknya, hingga aku terusik dingin gemerisik hujan yang bermain lompat
lompatan menuju tanah dengan gaya terjunnya yang ekstrim tanpa parasut. Aku
yakin benar, pasti sakit sekali rasanya jatuh menabrak bumi tanpa parasut,
ditambah lagi harus mendarat di batu, kayu, atap, jalan, jembatan dan segalanya
yang tak pernah seempuk kasur randu.
Hujan
terkadang membuatku merasakan kemiripan takdir hidupku dengannya yang penuh
hujat hina dari mulut penuh bisa orang sekitar atas kemelaratanku. Namun hebatnya,





